Kamis, 22 November 2018

PERASAAN SEORANG ISTRI

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu Perkenalkan nama saya Nindy nur’alita mahasiswi dari Politeknik Negri Media Kreatif. Saya adalah mahasiswi dengan jurusan Penerbitan di Politeknik Negri Media Kreatif. Saya diberi tugas oleh dosen saya mengenai kasus Baiq Nuril yang saat ini sedang banyak dibicarakan di berbagai media. Dengan ini saya hanya memenuhi tanggung jawab saya sebagai mahasiswi untuk mengerjakan tugas, tidak ada maksud lain yang tidak berkenan di hati saya untuk kasus ini. Jadi mohon dimaafkan. Pasti kalian sudah tahu kan? Tentang kasus Baiq Nuril. Saya disini ingin membahas sedikit tentang kasus ini. tetapi saya akan membahas bagaimana perasaan seorang istri pelaku yang ternyata melakukan tindakan pelecehan seksual kepada wanita lain, yaitu sekretarisnya. Walaupun ini diluar permasalahan dari kasus Baiq Nuril, tetapi entah mengapa, ketika saya membaca berita tentang kasus ini, hal yang pertama terfikirkan oleh saya adalah, dimana istri seorang pelaku? Bagaimana perasaan dia saat ini?. banyak sekali pertanyaan tentang Istrinya tersebut. Saya tahu, mungkin saat ini dia benar benar sangat merasa kecewa dengan perbuatan suaminya tersebut. Saya tahu bagaimana rasanya diselingkuhkan seperti itu. Perasaan bercampur aduk, seakan dikhianati oleh seseorang yang kita sayangi. Tidak ada wanita yang ingin dikhianati, dimadu seperti ini. secara tidak sadar, kepercayaan sebagai seorang istri bisa saja menghilang. Mungkin dia hanya terdiam, melainkan karna dia memikirkan beberapa anaknya yang masih membutuhkan perhatian dari seorang ayah. Istri tetaplah menjadi seorang istri yang hanya bisa mematuhi perintah dari kepala keluarga atau suami. Tapi, apa mungkin? Sebuah kekeluargaan akan bertahan dengan kebohongan dan pengkhianatan? Ketika semua itu telah terbongkar, masih adakah rasa sayang sepenuhnya yang terdapat disana? Masih adakah kepercayaan sepenuhnya? Mungkin masih ada, atau mungkin sudah pudar seiring jalannya waktu. Ketika sebuah kekeluargaan yang harmonis, dikhianati dengan perbuatan yang bisa jadi dibilang fatal, maka keluarga yang harmonis itu perlahan akan hilang dengan kesalahan itu. Untuk apa? Untuk apa menjalankan rumah tangga dengan diiringi oleh pengkhianatan dan kebohongan. Banyak yang mengatakan, orang yang sudah suami istri dengan orang yang berpacaran itu berbeda. Saya tahu, mungkin berbeda, tetapi perasaan tidak ada yang berbeda. Perbedaannya adalah, ketika kita sudah bersuami, apapun yang kita lakukan harus izin dan patuh kepada suami, dan bertahan ketika masalah datang hanya untuk anak anaknya. Lain pula, ketika kita berpacaran, kita hanya perlu mengenal satu sama lain, ketika sudah tidak cocok atau ada suatu masalah, hubungan tersebut tidak ada lagi yang harus dipertahankan. Kesalahan terbesar dari sebuah hubungan adalah perselingkuhan. Apa itu berlaku untuk sepasang suami istri, jika tidak, lalu apa permasalahan terbesarnya? Ketika seorang istri menguggat cerai sang suami, dia berfikir, bagaimana caranya saya memberi makan dan nafkah kepada anak anak saya kelak? Hey, mungkin hubungan suami istri yang kandas. Tetapi hubungan ayah dan seorang anak tidaklah kandas. Mau bagaimana pun masalahnya, mau bagaimanapun keadaannya, dia tetaplah anak dari seorang ayah. Tentu saja, ayah wajib memberi nafkah kepada anak anaknya walaupun keadaan rumah tangganya tidak lagi bersama. Ayah akan tetap memberikan sedikit demi sedikit nafkah kepada anaknya, karna dia memilki tanggung jawab sebagai ayah. Walaupun tanggung jawab sebagai suami telah hilang. Untuk kedepannya, sang istri tentu saja bisa memulai hal hal yang baru, seperti usaha ataupun yang lainnya. Saya disini bukan berarti memojokan atau menyuruh untuk sang pelaku dan istrinya untuk bercerai. Saya hanya melontarkan apa yang saya fikirkan, dan apa yang dirasakan mungkin dari istrinya tersebut. Tetapi, semua ada dipihak yang berkenan. Ketika ia masih sanggup untuk bertahan dan akan terus bersama, tentu saya akan doakan yang terbaik. Mungkin dari sebuah kasus ini, menjadi pelajaran untuk sebuah rumah tangganya, untuk lebih mengawasi, memahami dan berfikir sebelum bertindak. Karna disini, bukan lagi permasalahan yang sepele. Apalagi sudah menjadi sepasang suami istri, dan telah mengucapkan janji di hadapanNya. setidaknya seorang Istri telah berusaha menjadi seorang istri yang terbaik dimata suami. tidak ada hal niat untuk melakukan kesalahan dan membuatnya kecewa. Sekian dari saya, kurang lebihnya mohon dimaafkan. Terima Kasih Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabaraktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5 Gerakan Peregangan Sederhana Selama WFH

1. Peregangan Otot Dada ( Pec Stretch ) Peregangan  pec  bermanfaat untuk membantu melepaskan otot-otot dada yang tegang terutama otot y...