Kamis, 19 Maret 2020

SAMPAH JAKARTA


Sampah di Jakarta setiap harinya harus bertambah sebanyak 7.700 ton. Jumlah ini sangat membuat masyarakat khawatir.

Pasti kalian sudah sangat paham akan adanya sampah di Ibukota kita ini. Benar sekali, sampah Ibukota ini semakin hari semakin menumpuk, mulai dari sampah organik hingga sampah non-organik. Bayangkan saja, jika setiap harinya sampah yang dihasilkan mencapai 7.700 ton di Jakarta. Semua bermuara ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bentargebang di kota Bekasi. 
Sampah yang dihasilkan dari Jakarta berbeda dengan sampah dari daaerah lainnya. Sampah organik berada di angka 55-60 persen. Sampah pun dalam keadaan tercampur organik dan non-organik tidak ada pemilahan pada saat petugas mengambilnya. 
Jumlah sampah ini sangat berbahaya jika TPST tidak dapat lagi menampung sampah-sampah yang datang setiap harinya dengan jumlah yang tidak sedikit. 

“7.800 ton yang masuk Bentargebang. Kalau tambah 10 persen yang terkelola dengan bauk di sumber seperti dipilah atau di bank sampah, maka total timbulan sampah lebih kurang 8.000 ton,” kata Kepala Unit Tempat Pengelola Sampah Terpadu Dinas Lingkungan Hidup  (LH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu di kantornya.
Pada tahun 2013, sampah Jakarta masuk ke Bentargebang berjumlah 5.600 ton per hari. Lalu semakin meningkat hingga menjadi 5.664 ton per hari di tahun 2014. Di tahun 2015 sebanyak 2.400 ton per hari, 2016 sebanyak 6.500 ton per hari, dan 2017 sebanyak 6.875 ton. Jumlah sampah ini semakin menaik pada setiap tahunnya hingga pada pertengahan tahun 2019 sampah berjumlah 6.700 ton perharinya.
Masyarakat di Jakarta masih belum paham secara baik mengenai manfaat pilah sampah sebelum membuangnya. Sampah yang memiliki nilai ekonomis seperti plastik atau wadah makanan justru digabungkan dengan sampah rumah tangga. Sehingga membuat nilai jual sampah plastik tersebut menjadi hillang. 

Keberadaan bank sampah di masyarakat pun masih sangat minim. Tugas bank sampah adalah membantu memilah sampah organik dan non-organik setiap harinya. Semakin minim pemilahan sampah dilakukan maka sampah yang berada di Bentargebang semakin bertambah.
Perda Nomor 3 tahun 2013 tentang Pengelolahan Sampah. Semua pemilik kawasan mandiri wajib mengolah sampahnya sendiri. Fakta saat ini, kawasan mandiri baru sebatas mengangkut sampah bekerja sama dengan pihak swasta. Pembuangan pun tetap akan berakhir di Bantergebang.
Sampah yang setiap harinya bertambah membuat kawasan Bantergebang semakin menyempit. Hampir tidak ada titik untuk menampung sampah warga Jakarta. Kapasitas awal 40 juta ton sampah terus menyusut. Hingga tersisa 10 juta ton.
“Kami sudah mulai sounding kapasitas maksimum Bentargebang itu dari 2 tahun lalu. Bahwa kapasitas maksimun Bantergebang itu tingga di 2021. Kapasitas maksimumnya adalah 40 juta ton, sekarang sudah hampir 30 juta ton dan sisanya adalah 10 juta ton lagi,” tegas dia

Sembari itu, Pemrov DKI terus mencari solusi mengenai kondisi Bantergadeng. Namun, dibalik solusi dari Pemrov masyarakat Jakarta pun harus dapat berbuat bijak mengenai sampah di Jakarta dengan cara kurangi pemakaian plastik dengan menggunakan bag kecil untuk berbelanja atau hal lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5 Gerakan Peregangan Sederhana Selama WFH

1. Peregangan Otot Dada ( Pec Stretch ) Peregangan  pec  bermanfaat untuk membantu melepaskan otot-otot dada yang tegang terutama otot y...