Siapa sih yang tidak tahu tentang kemacetan di Jakarta.
Menurut Wikipedia kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau
bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan
melebihi kapasitas jalanan.
Kemacetan sering sekali terjadi di Jakarta karena lalu
lintas yang tidak baik atau memadai dan juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan
dengan kepadatan penduduk. Terdapat rumus kemacetan di wilayah Jakarta yaitu :
Volume kendaraan terminal – Jumlah kendaraan yang disediakan
(unit)
Kemacetan bisa kita jumpai di sekitar stasiun, depan
sekolahan yang berada di pinggir jalan, tempat pangkalan angkutan umum, pasar
dan lampu merah. Selain itu pun, kemacetan juga bisa disebabkan karena adanya
kebakaran, kecelakaan, proyektor, dan banjir.
Jakarta sendiri sangat rawan akan kemacetan, maka tidak
heran jika sebagian warganya memilih untuk memutar balik kendaraan karena
kepadatan kendaraan yang tidak bergerak sama sekali. Kemacetan di Jakarta
seperti makanan sehari-hari yang bisa kita jumpai baik pagi, siang dan juga
malam.
“Gimana ngga macet, wong satu mobil hanya satu orang saja”
keluh pengendara motor. Benar sekali, banyak diantara mereka yang menggunakan
mobil pribadi dan hanya menggunakannya sendiri. Jumlah kendaraan sepeda motor
pribadi dan mobil pribadi di Jakarta sekitar 14,74 juta unit pada tahun 2018.
Maka dari itu, Jakarta sudah merencanakan dan menetapkan pembatasan penggunaan
kendaraan pribadi menuju kawasan tertentu atau ERP (Electronic Road Pricing).
Selain itu pembatasan dalam penggunaan kendaraan pribadi bisa dilakukan dengan
pajak kendaraan bermotor, bahan bakar, dan lainnya.
Dampak dari kemacetan adalah kerugian waktu bagi para
pekerja yang terjebak macet, pemborosan energi, meningkatnya polusi udara, dan
menganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran.
Apa bisa kemacetan itu dicegah?
Tentu saja bisa, dengan melakukan beberapa cara seperti
memperbesar jalan atau menambah jalur lalu lintas, mengubah sirkulasi lalu
lintas menjadi satu arah, biasakan menggunakan kendaraan umum yang sudah
disediakan oleh negara seperti Commuter Line, Busway, Transjakarta dan lainnya
sehingga penggunaan kendaraan pribadi menjadi berkurang.
Jadi, yuk lestarikan hal tersebut dari sekarang. Kalau bukan
kita, lalu siapa lagi yang harus memulai?







